Senin, 02 Mei 2011

Mc Donnell Douglas/Boeing F/A-18 Hornet



Pada tahun 1970-an Angkatan Laut AS memutuskan untuk membuat pesawat tempur baru melalui program Naval Fighter-Attack Experimental (VFAX). Melalui program tersebut Angkatan Laut AS bermaksud membuat pesawat tempur baru untuk menggantikan empat pesawat sekaligus : A-4 Skyhawk, A-6 Intruder, A-7 Corsair II, dan F-4 Phantom II. Pesawat tempur baru tersebut juga ditujukan sebagai pendamping pesawat tempur F-14 Tomcat. Pada saat yang bersamaan Angkatan Udara AS juga sedang mengembangkan pesawat tempur baru dalam program Light Weight Fighter (LWF).







Ada dua kandidat utama dalam program LWF Angkatan Udara AS, yaitu YF-16 buatan General Dynamics dan YF-17 buatan Northrop. Angkatan Udara AS sendiri kemudian memilih YF-16 sebagai pemenang program LWF dan selanjutnya diproduksi sebagai F-16 Fighting Falcon. Northrop sendiri kemudian bekerja sama dengan Mc Donnell Douglas untuk mengembangkan rancangan pesawat tempur baru dengan berdasarkan YF-17 untuk memenuhi program VFAX Angkatan Laut AS. Pesawat tempur baru tersebut berhasil melakukan first flight pada tanggal 18 November 1978 dan selanjutnya menjadi pemenang program VFAX dan diproduksi dengan nama F/A-18 Hornet. F/A-18 Hornet mulai digunakan secara operasional oleh Angkatan Laut AS pada tanggal 7 Januari 1983. Selain oleh Angkatan Laut, pesawat tempur ini juga digunakan oleh Korps Marinir AS.




Pada awalnya kerja sama antara Northrop dengan Mc Donnell Douglas berjalan dengan baik. Northrop adalah salah satu kontraktor utama Mc Donnell Douglas dalam pembuatan F/A-18. Selain itu terdapat pula perjanjian bahwa Northrop akan membuat varian F-18L yang lebih ditujukan untuk pasaran ekspor dan tidak memiliki kemampuan beroperasi dari atas kapal induk seperti F/A-18. Namun kerja sama tersebut akhirnya buyar karena Northrop merasa Mc Donnell Douglas telah melakukan penjualan F/A-18 Hornet keluar negeri, pasaran yang sebetulnya menjadi incaran Northrop melalui F-18L. Perselisihan antara kedua perusahaan ini baru berakhir pada tahun 1985 ketika akhirnya Mc Donnell Douglas setuju membayar 50 juta dollar AS kepada Northrop sebagai ganti rugi biaya pengembangan F-18L dan hak penjualan pesawat tempur keluar negeri jatuh kepada F/A-18. Pada akhirnya Northrop menghentikan pemasaran F-18L karena tidak ada satupun pesawat tersebut yang laku terjual dan produksi F/A-18 kemudian beralih kepada Boeing seiring dengan diakuisisinya Mc Donnell Douglas oleh Boeing pada tahun 1997.



F/A-18 Hornet dirancang sebagai multi role fighter bagi Angkatan Laut dan Korps Marnir AS. Misi utama pesawat tempur ini adalah fighter escort, fleet air defense, supperesion of enemy air defense (SEAD), air interdiction, close air support, dan aerial reconnaissance. Ada empat varian utama F/A-18, yaitu varian tempur single seat F/A-18A dan F/A-18C serta varian dual seat F/A-18B dan F/A-18D. Varian F/A-18A dan F/A-18C adalah khusus varian pesawat tempur, sementara varian F/A-18B dikhususkan sebagai pesawat latih walaupun juga memiliki kemampuan tempur. Adapun varian F/A-18D lebih banyak digunakan sebagai attack aircraft, tactical air control, forward air control, serta sebagai pesawat intai taktis.




Operasi tempur pertama yang melibatkan F/A-18 terjadi pada tahun 1986 ketika pesawat F/A-18 dari skadron VFA-131 yang berpangkalan di atas kapal induk USS Coral Sea melakukan misi SEAD untuk melumpuhkan pertahan udara Libya di Benghazi dalam Operation Prairie Fire guna mendukung Operation Eldorado Canyon. Selanjutnya F/A-18 ikut digunakan dalam Perang Teluk tahun 1991. Dalam perang tersebut F/A-18 melakukan 4.551 misi serangan udara terhadap Irak dan berhasil menembak jatuh dua pesawat MiG-21, namun AS harus kehilangan dua pesawat F/A-18 Hornet dalam perang tersebut.





F/A-18 Hornet masih terus menjadi andalan Angkatan Laut dan Korps Marinir AS dalam sejumlah operasi milter seperti operasi milter NATO di Bosnia dan Kosovo, invasi AS ke Irak, dan operasi militer di Afghanistan. Selain digunakan untuk misi-misi tempur, F/A-18 juga digunakan oleh team aerobatik Blue Angels. Blue Angels mulai menggunakan F/A-18 Hornet sejak tahun 1986, menggantikan A-4 Skyhawk.






Selain Angkatan Laut dan Korps Marinir AS, F/A-18 Horney juga digunakna oleh Angkatan Udara Kanada, Australia, Finlandia, Kuwait, Spanyol, Swiss, Finlandia, dan Malaysia. Walaupun sejak tahun 1999 sudah muncul F/A-18 E/F Super Hornet sebagai pengganti F/A-18 Hornet, namun sejumlah negara pengguna F/A-18 masih terus melakukan peningkatan kemampuan tempur pesawat ini sehingga F/A-18 Hornet masih akan terus dioperasikan setidaknya sampai dengan tahun 2025.










Specifications (F/A-18C)
Crew : 1
Powerplant : 2 x 71.11 kN General Electric F404-GE-400 afterburning turbofan engine
Length : 17.07m
Wingspan : 11.43m
Height : 4.66m
Weight empty : 10,455 kg
Maximum take-off weight :25,400 kg
Maximum speed : 1,915 km/h
Range : 740 km combat radius
Service ceiling : 15,250m
Armament : 1 x 20mm M61 cannon; up to 7,031 kg (15,500 lb) of bombs, missiles, or rockets.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar